Peci Presiden

PECI PRESIDEN


Bung Karno memang seorang yang visioner. Banyak pandangan dan tindakannya yang bisa melesat jauh melampaui usianya sendiri.

Salah satunya adalah bagaimana peci atau kopiah yang akhirnya menjadi penutup kepala resmi bagi para pemimpin, dari pemimpin RT sampai Presiden, semuanya kalau mau terlihat berwibawa dan bijaksana, musti pakai peci.

Padahal aslinya peci itu adalah penutup kepala para petani, pedagang kecil, tukang becak, sais sado (tukang delman) dan lain sebagainya.

Awalnya Bung Karno mulai memakai peci adalah saat Jong Java mengadakan pertemuan di Surabaya. Bung Karno saat itu baru lulus HBS (setingkat SMA).

Seperti dikisahkan oleh Guntur Sukarno dalam buku "Bung Karno & Kesayangannya." (1981)

Pada satu waktu Jong Java mengadakan suatu pertemuan umum para anggotanya. Mereka yang hadir tidak satu pun ada yang memakai tutup kepala, blangkon apalagi peci.

Saat itu di kalangan intelektual enggan mengenakan tutup kepala seperti blangkon atau peci. Karena memakai tutup kepala dianggap oleh mereka sebagai merendahkan derajat kalangan intelektual.

Bung Karno muak dengan sikap para intelektual seperti itu. Pikiran semacam itu berlawanan dengan pikiran bung Karno yang ingin agar kaum terpelajar bangsa Indonesia menyatu dengan adat istiadat kebiasaan dan ciri-ciri dari rakyat kebanyakan. Yaitu kaum yang miskin yang jumlahnya berjuta-juta.

Untuk memprotes dan melawan pandangan salah tersebut maka Bung Karno sengaja menngenakan peci hitam dalam peretemuan Jong Java. Peci hitam beledu (beludru) yang biasa sering digunakan oleh bapak-bapak bakul sate Madura di Surabaya.

Begitu Bung Karno memasuki ruangan dengan peci tukang sate, seluruh hadirin melotot memandang Bung Karno tanpa suara.

Saat itulah Bung Karno lantang berbicara, "Janganlah kita melupakan demi tujuan kita bahwa pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat."

"Kita memerlukan suatu lambang kepribadian Indonesia. Peci memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita. Hayolah saudara-saudara, mari kita angkat kepala kita tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka!"

______

Begitulah akhirnya nasib peci yang awalnya dipakai oleh tukang sate Madura, rakyat kecil menjadi simbol kegagahan para pemimpin, dari tingkat rukun tetangga, gubernur, menteri, anggota DPR, sampai kepala negara selalu menggunakan peci. Mau nyapres, nyaleg, atau nyagub, semua difoto pakai peci.

*Peci terakhir yang dipakai oleh Bung Karno adalah merk Moestava Achmad bikinan gang karet Jakarta.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210759588293631&id=1467687957

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hobi Bikin Meme

Menggambar

Struktur Teori Habitus Pierre